sarapan dulu
Tidak mau seterang ini. Pagi yang aku tahu itu tidak menyilaukan, dengan aku yang terbaring di himpitan bantal dan guling. Posisi tidak bisa diprediksi, miring kanan, miring kiri, seringnya menyebabkan sakit leher. Tapi yang aku tahu pasti, saat terjaga dari mimpi dengan kamu sebagai tokoh utamanya, aku selalu bangun dengan posisi memeluk guling dan bibir manyun sedikit. Hehe.
Aku seharusnya bukan di sini, di luar, disinggahi debu dan asap, melainkan berbaring manja di kasur, menutup wajah yang sedang memanas karena lamunan tentangmu. Atau lebih nyaman aku menyenderkan kepala di atas dadamu, sesekali mengelusnya, mencium seperti sebelumnya. Aku mungkin juga sedang terduduk di atas karpet kecil dengan permintaan sederhana menyangkut dirimu. Aku ingin ada kamu, lalu setelahnya ada kamu, besoknya masih kamu, sampai ujung usia, kamu.
Perasaanku untukmu menderu, tidak mau kalah dengan suara knalpot yang sedari tadi berusaha mengintimidasi headset dan playlist kita. Benar katamu, bagaimana bisa pacaran di atas motor, sudah pakai headset dengan volume suara menuju maksimum saja aku masih merasa bising. Anyway, berisik mana sama setiap kamu mulai cerita, aku menyela? Sekarang kamu tahu kan aku menyayangimu dalam berbagai bentuk, sekali pun itu menyebabkan mukamu berubah menjadi (¬_¬) atau (¬.¬͡) atau ( ̾˘̶̀̾̾ ̯˘̶́̾ ̾̾̾’̾̾)̾ . Haha dan aku semakin sayang.
Dan sebelum aku menulis titik untuk terakhir kali, izinkan aku menarik senyummu dari ingatan. Lalu aku susun bersama beberapa status bbmmu, aku ikat kuat dengan caramu menggenggam tanganku, dan aku tambahkan kenyataan bahwa kita terlahir untuk menjadi pasangan. Sarapan yang sempurna.
Selamat pagi, sayang.